Pemprov NTT dan PRISMA Menggelar Lokakarya Berbagi Pembelajaran Sektor Babi di NTT

"Materi edukasi tersebut disediakan secara gratis dan dapat diakses oleh siapa saja melalui tautan bit.ly/MateriDigitalASFdanIB. Termasuk di dalam materi edukasi tersebut adalah kampanye daring mengenai pencegahan wabah Flu Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) untuk meningkatkan pengetahuan peternak mengenai wabah tersebut dan langkah-langkah biosekuriti yang sangat penting untuk mencegah wabah ini di masa depan dan membantu sektor ini pulih, " bebernya.
Ia menambahkan, kampanye ini telah menjangkau 650.000 orang untuk meningkatkan kesadaran akan dampak ASF.
Baca Juga:
Perwakilan peternak babi NTT, Rofinus Rudeng mengatakan, kampanye tersebut sangat membantu karena dapat membantu peternak kecil mendapatkan akses yang mudah terhadap pakan, obat-obatan hewan, dan bibit babi unggul. Hal ini berdampak positif pada ekonomi peternak, dimana anak-anak mereka dapat bersekolah dengan baik dan kecukupan gizi keluarga terjamin. Selain itu, saya juga senang karena dapat menyediakan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal, serta menjadi tempat magang bagi siswa SMK dan mahasiswa jurusan peternakan dan biologi," ungkap Rofinus Rudeng.
Diketahui, NTT merupakan provinsi dengan populasi ternak babi terbesar di Indonesia. Beternak babi merupakan tradisi turun temurun untuk memenuhi ritual kebudayaan, agama maupun dikonsumsi sehari-hari. Sehingga kemunculan ASF sejak akhir 2019 memberi pukulan keras bagi lebih dari 900.000 peternak babi rumahan di provinsi tersebut.

Warga Temukan Seekor Harimau Sumatera Terperangkap Jerat Babi di Kotanopan

Pemprov NTT Sukses Gelar Kupang Exotic Run dan Jazz Festival 2024

Serda Brama Dampingi Petani dalam Perawatan Tanaman Jagung

Pemprov NTT Siap Gelar Kupang Exotic Run dan Jazz Festival

4 Pemuda di Samosir Ditangkap Warga saat Curi Babi: Alasan untuk Dimakan
